zero-sum game dalam asmara

mengapa cinta tidak seharusnya menjadi ajang menang-kalah

zero-sum game dalam asmara
I

Pernahkah kita bertengkar dengan pasangan hanya karena urusan yang sangat sepele? Misalnya, berdebat tentang siapa yang paling lelah setelah seharian bekerja. Atau siapa yang harus mengalah saat memilih tempat makan di akhir pekan. Tanpa sadar, nada suara kita mulai meninggi. Kita tiba-tiba menyusun argumen bagaikan seorang pengacara tangguh di ruang sidang. Pokoknya, kita harus menang dan dia harus salah. Namun hal yang menarik sering kali terjadi setelahnya. Setelah kita berhasil "menang" dan membuat pasangan terdiam, rasanya kok tidak bahagia sama sekali, ya? Malah ada rasa tidak nyaman yang mengganjal di dada. Di sinilah saya mulai merenung. Mengapa hal seindah cinta sering kali berubah menjadi arena gladiator?

II

Untuk membedah fenomena ini, mari kita pinjam sedikit ilmu dari sejarah dan matematika. Ada sebuah konsep dalam teori permainan atau game theory yang dikenal sebagai zero-sum game. Sederhananya, ini adalah situasi di mana keuntungan satu pihak pasti berarti kerugian bagi pihak yang lain. Kalau saya mendapat poin plus satu, maka teman-teman harus mendapat poin minus satu. Hasil akhirnya selalu nol. Konsep ini pertama kali dipopulerkan oleh matematikawan John von Neumann pada era Perang Dingin. Dulu, strategi ini dipakai murni untuk memprediksi pergerakan militer negara musuh. Masuk akal jika dipakai untuk memenangkan perang. Namun, entah bagaimana ceritanya, mentalitas Perang Dingin ini perlahan menyusup ke dalam hubungan asmara kita. Kita mulai menghitung skor secara diam-diam. Siapa yang paling sering minta maaf? Siapa yang berkorban lebih banyak minggu ini? Tanpa sadar, kita memperlakukan pasangan bukan sebagai rekan satu tim, melainkan sebagai negara rival.

III

Lalu, mengapa otak kita begitu terobsesi dengan kemenangan dalam suatu argumen? Padahal secara logika, kita tahu persis bahwa menyakiti orang yang kita cintai bukanlah hal yang baik. Apakah ini bagian dari insting bertahan hidup warisan nenek moyang kita? Saat perdebatan memanas di ruang tamu, apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam kepala kita? Mengapa ego tiba-tiba mengambil alih kemudi, membuat kita buta terhadap perasaan pasangan yang sedang terluka? Pertanyaan terbesarnya adalah: jika cinta sejak awal didesain oleh proses evolusi untuk menyatukan dua manusia, di titik mana sistem ini mengalami erosi? Pasti ada semacam "korsleting" di dalam saraf kita yang mengubah niat pelukan menjadi pukulan psikologis.

IV

Jawabannya ternyata bersembunyi di balik cara kerja otak primitif kita. Saat kita merasa diserang—meskipun ancamannya cuma kritik sepele tentang cara kita mencuci piring—bagian otak yang bernama amigdala akan membunyikan alarm bahaya. Terjadilah apa yang dalam dunia psikologi disebut amygdala hijack. Otak kita seketika dibanjiri hormon stres seperti kortisol. Mode "bertarung atau kabur" atau fight-or-flight langsung aktif. Dalam kondisi darurat ini, otak kita kehilangan kemampuan untuk membedakan antara ancaman predator purba dan ancaman argumen dari pasangan. Semuanya dianggap musuh yang harus dikalahkan. Namun, sains asmara menunjukkan fakta yang sama sekali berbeda. Secara biologis, hubungan yang sehat digerakkan oleh oksitosin, yakni hormon pengikat yang menciptakan rasa aman dan keintiman. Cinta yang sejati secara ilmiah bukanlah zero-sum game, melainkan positive-sum game. Artinya, saat kita berkolaborasi mencari solusi, dua-duanya akan menang. Dan inilah realita pahit yang harus kita sadari: dalam asmara, jika salah satu pihak kalah, maka hubungan itu sendirilah yang sebenarnya kalah. Kemenangan kita yang berdiri di atas ego dan penderitaan pasangan hanyalah sebuah kemenangan ilusi.

V

Jadi, apa yang bisa kita lakukan saat badai perdebatan mulai datang menghampiri? Cobalah untuk menarik napas panjang sejenak. Beri jeda waktu agar kortisol di otak kita mereda dan bagian logika bisa kembali bekerja dengan baik. Mari kita ubah cara pandang kita bersama-sama. Musuhnya bukanlah pasangan kita yang sedang duduk cemberut di ujung sofa sana. Musuh sebenarnya adalah masalah yang sedang berdiri di antara kita berdua. Teman-teman, cinta itu terlalu berharga dan rapuh untuk dijadikan sekadar ajang adu gengsi. Menurunkan ego dan memilih untuk mendengarkan tidak pernah membuat kita menjadi pihak yang lemah. Justru, dibutuhkan keberanian yang luar biasa besar untuk meletakkan "senjata" emosional kita demi merangkul orang yang kita cintai. Lagipula, apalah artinya memenangkan sebuah perdebatan jika pada malam harinya kita harus tidur memeluk punggung yang dingin?